Trend mobil retro telah membuat penggunaan pernik-pernik atau aksesoris yang berhubungan dengan mobil retro kembali marak. Salah satunya adalah penggunaan “Ban Setrip Putih” (White Sidewall Tyre) atau Ban dengan sisi berwarna putih (Whitewall Tyre).
Mobil-mobil retro klasik yang menggunakan whitewall ini terlihat lebih mewah serta klasik. Di Indonesia ada beberapa merk ban whitewall yang beredar yaitu : Champiro (produk local) dan Kumho (produk Korea).
Whitewall ini mempunyai sejarah yang cukup panjang. Pada masa sekitar tahun 1920, ban mobil yang diproduksi memang seluruhnya berwarna putih karena memang terbuat dari bahan karet alam yang berwarna putih. Namun ban berwarna putih ini ternyata lebih mudah kotor dan daya tahannya yang rendah, karena mudah sekali sobek pada saat digunakan
Setelah dilakukan penelitian, akhirnya ditemukan bahan pencampur untuk ban yaitu “Carbon Black”.Oleh sebab itu, pada perkembangan selanjutnya, bahan ini ditambahkan untuk memperkuat daya tahan serta merubah warna putih menjadi warna gelap yaitu hitam agar menambah daya tarik.
Penggunaan Carbon Black ini dahulu hanya pada sisi luar dan dalam ban yang menyentuh jalan. Setelah berjalan beberapa waktu, pada akhirnya digunakan pada keseluruhan permukaan ban baik pada dinding ban maupun tapak ban. Walaupun hampir seluruh produksi ban telah memakai teknologi baru ini, pada beberapa model ban , warna putihnya tidak dihilangkan , hanya saja ukurannya di perkecil berupa garis atau tulisan berwarna putih.
Dengan penggunaan bahan carbon black ini, harga ban berwarna hitam ternyata telah membuat biaya produksinya menjadi lebih mahal daripada ban yang berwarna putih, walaupun lebih mudah dibersihkan. Akhirnya, ban berwarna hitam mempunyai kelas yang lebih tinggi dari ban berwarna putih. Sehingga hanya kendaraan-kendaraan mewah saja yang menggunakannya.

Beberapa saat kemudian, sekitar tahun 1930, popularitas whitewall kembali meningkat , tetapi dengan model yang berbeda yaitu, warna putih ditengah, diapit dengan warna hitam pada bagian atas dan bawah dinding ban.
Pada tahun 1950, terjadi perubahan model dan ukuran ban, yaitu semakin berkurangnya ketinggian ban. Hal ini dilakukan untuk mengejar performa sesuai dengan peningkatan kecepatan yang dapat diraih oleh mobil-mobil yg diproduksi pada tahun tersebut. Sehingga menyebabkan ukuran warna putih pada dinding ban semakin dikurangi lebarnya.
Trend selanjutnya adalah ban dengan dinding putih model garis/setrip. Ban whitewall model ini mulai di produksi pada tahun 1957, dan secara perlahan mulai menggeser pemakaian ban dinding putih yang berukuran lebar. Ukuran dari dindingputih yang berbentuk garis inipun bermacam-macam, tetapi yang paling umum adalah sekitara 1 “-3 / 4".
Pada pertengahan tahun 1960-an, muncul variasi dari ban berdinding putih ini, dengan model kombinasi antara warna merah / putih yang dipasang pertama kali pada mobil Ford Thunderbird serta beberapa mobil mewah lain produksi pabrik Mobil Ford.
Variasi tiga garis putih juga diproduksi untuk beberapa kendaraan mewah Cadillacs, Lincoln dan Imperials. Tahun 1970-an terjadi pengulangan trend ban berdinding putih, dengan melebarkan kembali ukurannya menjadi 1 5 / 8 “plus, serta ban berdinding putih dengan lebar penuh yang dipakai oleh beberapa komunitas mobil di amerika.
Saat ini, meskipun whitewalls lebar yang hampir tidak dipergunakan di mobil modern, ban jenis ini masih tetap diproduksi dengan teknologi baru seperti model radial oleh beberapa produsen ban. Dengan semakin banyaknya pabrik pembuat ban serta ke aneka ragaman keinginan konsumen, beberapa perusahaan manufaktur whitewall membuat terobosan baru dengan memproduksi Portawall yaitu semacam karet putih yang dapat dipasangkan di hampir semua jenis ban dengan cara disisipkan diantara ban dan velg kendaraan.
Portawalls ini sangat fleksibel, dapat digunakan dengan segala jenis ban , walaupun sebaiknya digunakan dengan innertubes (ban dalam), untuk mempertahankan ukuran tekanan anginnya.
Sumber :